Dia(Wanita)

Tuhan…
dulu aku pernah meminta
tapi menurutMu itu bukan yang terbaik
kini saat ku terbiasa
Kaupun berkehendak
mempertemukan dia dengan diriku
yang mungkin telah lupa dengan pintaku

Tuhan…
hati ini telah membeku
tapi Engkau memberiku kehangatan
Dikala jiwa pun mulai goyah
Dia hadir menopangku
padahal aku tak mengingat pintaku

Tuhan…
aku pun mulai lupa untuk mencintai
tapi kehendakMu berkata lain
aku ragu untuk memulai
Benarkah dia yang terbaik untukku

Tuhan…
semua kuserahkan padaMu
Yakinkanlah diriku
Tidak ada lagi selain Dia

Tuhan…
bahagiaku anugrah dariMu
aku bersyukur Karena wanita itu adalah dia

Cintaku, Cinta dia dan CintaNya

Semua mahluk mempunyai suratannya
Entah itu baik atau buruk itulah yang terjadi
Tidak untuk dibantah atau pun diperdebatan
Melainkan agar kita selalu teringat
Bahwa ini adalah cintaNya yang tiada batas

Akupun mempunyai suratanku
Yang harus ku jalani baik kebahagiaan atau rintangan
Tidak untuk aku pertanyakan dan kugusarkan
Melainkan aku hayati sepenuh hati
Bahwa ini untukNya dengan keterbatasan cintaku

Begitupun dengan dia juga mempunyai suratan
Yang dia jalani sama halnya dengan diriku
Tidak untuk membedakan dan berjalan sendiri
Melainkan kita bisa bersama
Bahwa ini cintaku, cinta dia untuk CintaNya

Kampungku…

Kayuagung, tanah kelahiran & kampung dimana aku dididik dan dibesarkan. Setiap kali pulang ke kampung sebenarnya tidak banyak perubahan yang terjadi. Namun, entah kenapa kerinduan untuk tetap kembali dan berada di sana selalu menghampiri. Sebuah kota kecil yang dibelah oleh Sungai Ogan menyimpan semua kenangan masa cilik & remajaku. Kerinduan akan kenangan bermain air & mencari ikan/ular d sungai, berburu buah karet & layang2 d semak belukar & pemakaman umum, bersepeda subuh & jalan2 sore keliling kota, bermain petak umpet, kelereng, & permainan rakyat lainnya bersama anak2 kampung, dan juga kejayaan masa lalu d bangku sekolah.

Terlalu banyak hal-hal yang d ajarkan ayah dg keras kepadaku ttg melakukan segala pekerjaan yg harus d lakukan seorang lelaki. Terlalu banyak kasih sayang & perhatian ibu agar aku bisa menghargai arti pentingnya seorang wanita. Dan terlalu banyak pertengkaran & tolong menolong bersama adik2ku yang mengajarkanku makna kekeluargaan & persaudaraan. Serta terlalu banyak teman yang tertawa bersama, menangis bersama, terbantukan & tersenangkan atau bahkan tersakiti & teraniyaya yang mengajarkan betapa beharganya ikatan persahabatan. Banyaknya hal-hal inilah yang telah mengikat batinku tuk terus kembali & menatap langit biru kampungku.

Betapa beruntungnya aku dilahirkan di kota ini, di keluarga ini dan di lingkungan yang seperti ini. Tiada penyesalan telah melalui semua ini dengan segala kekurangannya yang menjadikan hidupku terasa begitu sempurna. Segala pelajaran & didikan yang menempa diriku menjadi seperti sekarang begitu beharga. Sebuah tekad telah tercetus untuk membuat senyum kebanggaan di wajah orang-orang yang ku cintai ini. Semoga Tuhan menuntunku menuju titik hidup terakhir dengan dapat terus mangabdi di jalan kebenaran yang hakiki.

Pagi ini untuk hariku

Matahari pagi telah menyingsing, entah kenapa mataku masih terasa berat padahal kurasa tidurku sudah lebih dari cukup. Dengan berat hati kupaksa tubuh yang masih gontai ini untuk berdiri meninggalkan peraduan yang membuatku terlelap semalaman. Dari cermin yang mulai kotor berdebu kulihat wajah yang masih kusam dan hasrat ingin melanjutkan petualangan lainnya di alam mimpi.Tidak bisa, aku harus melanjutkan hari ini. Walau aku tak bisa berharap banyak pada hari ini, karena aku sadar betul semua keinginan di tiap harinya belum tentu terwujud, bahkan kadang-kadang malapetaka bertubi-tubi menghampiriku. Tapi aku tidak pernah pesimis untuk menjalani hari-hari ku ini.

Setelah merasakan segarnya air dari bak mandi yang telah diisi sejak subuh tadi dan dengan dandanan kaos oblong, celana jeans dan sendal jepit maka petualangan hari ini dimulai. Memanggul tas berisi laptop sebagai bank data semua dokumen pentingku menuju kampus tercinta. Tampak sepedaku telah siap sedia menunggu di garasi untuk segera kukayuh, tapi sepedaku begitu penuh dengan debu karena beberapa hari belakangan aku tidak ditemaninya menjalani semua aktivitas.Tidak banyak waktu untuk membersihkannya. Hanya usapan kain bersih yang kulakukan. Saatnya berangkat.

Jalanan mulai mengalami kemacetan, terutama di lampu merah simpang empat ini. Entah kenapa semenjak lampu merah ini dioperasikan kembali, lalu lintas di sini tampak tidak tertib. Tidak hanya kemacetan ini yang membuatku semakin gerah, tapi juga cuaca yang belakangan semakin panas padahal dulu aku selalu mengenakan jaket kemanapun karena suhunya yang dingin.Walau jarak kampus dengan kost ku tidaklah begitu jauh tetapi aku bisa merasakan dengan jelas tiap kayuhannya. Cukup berkeringat untuk jarak itu. Jalan yang menanjak ini sepertinya menjadi faktor utama. Tapi aku selalu merasa senang ketika telah tiba di kampus.

Kampus selalu membayar tuntas setiap cucuran keringat & helaan nafas yang kukeluarkan karena disini bisa kuhampiri rumah keduaku & kutemui keluarga baruku. Cukup dengan tegur sapa & bercengkrama bersama mereka, kerinduan akan keluarga di seberang lautan sana pun terobati. Hari akan habis dengan indah dikala senyuman dari wajah-wajah sahabat ini selalu hadir, dikala senang maupun sedih. Kita saling menguatkan. Sama seperti hari-hari sebelumnya, perkuliahan telah tiada, hari habis begitu saja. Semangat untuk mengerjakan TA belum kembali, mungkin masih menerawang di atas sana. Tapi dukungan dari semua orang disekitar tak kunjung sirna bahkan terus membara. Terima kasih teman, itu begitu beharga.

Hingga sore ini pun masih kutemui hal-hal baru yang bisa aku pelajari. Terima kasih bahwa aku belajar tentang diriku dari dirimu. Cermin tempatku berkaca ada di dalam diri kalian. Aku bisa melihat diriku yang sesungguhnya walau terkadang berat untuk mengakui bahwa itulah diriku apa adanya, yang ternyata banyak mempunyai kelemahan yang dibalut keangkuhan & tinggi hati. Pada akhirnya aku pun sadar untuk dapat menerima diriku apa adanya, berlaku menurut perasaan & berhenti berlama-lama tuk berfikir. Senja pun semakin gelap, hari pun akan segera berlalu dan keesokan hari rutinitas pun berulang kembali. Mudah-mudahan gelapnya malam nanti tidak berimbas pada hatiku karena aku percaya malam ini akan dipenuhi kilauan bintang & diterangi indahnya cahaya bulan.

Wanita dimataku…

Cuma iseng mengeluarkan isi kepala ini aj, bukan bermaksud untuk menilai hal-hal yang mungkinsaja tidak aku mengerti secara pasti. Namun disini aku berada pada posisi sebagai siriku sendiri yang beginilah keadaanya, yang mempunyai mata tuk melihat, telinga tuk mendengar, otak tuk berfikir dan hati untuk merasakan kebenaran yang ada. Mungkin terkesan naif, tapi menurutku wanita itu memang mahluk terindah yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Sebagian besar tidak ada lelaki yang akan menyangkal bahwa wanita yang dia sukai adalah wanita yang tercantik dan tiada bandingannya, minimal untuk saat itu.
Apalagi mengingat betapa besar peran seorang wanita di saat dia menjadi ibu. Begitu besar kasih sayang dan perhatian akan dicurahkan bagi anak2nya mungkin bisa melebihi besarnya jagat raya yang telah diciptakan Allah, bahkan tidak akan terukur besarnya. Karena itulah, wanita dimataku begitu mulia.
Yah, ini hanyalah opiniku saja, mungkin sebagian orang tidak sependapat tapi sebaiknya kita berusaha untuk memahami dan menerima perbedaan pendapat yang ada sebagai khasanah kekayaan intelektual hehehe. Mungkin ini hasil dari backgroundku yang selama ini hanya benar2 mengenal seorang sosok wanita, yaitu Ibu saja hohoho. Walaupun dulu masih kecil sering diomelin, dan bahkan pernah dikejar pake sapu karena bikin kesel ibu… Tapi itu semua mulai aku sadari saat telah dewasa ini sebagai wujud kasih sayangnya kepadaku yang begitu luar biasa.Terima kasihku Ibunda tercinta.
Tidak hanya itu, kekagumanku terhadap wanita pun semakin bertambah, apalagi setelah diberi kesempatan hidup dibumi selama ini, aku bisa beraktivitas dan mengenal wanita-wanita yang luarbiasa. Mereka yang mempunyai cita-cita yang begitu besar dan dedikasi yang luarbiasa terhadap sesuatu hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan bahkan dianggap sepele oleh laki-laki inilah yang mebuatku berdecak kagum terhadap mereka. Keterbatasan sebagai mahluk yang bernama wanita ini juga terkadang tidak mampu menghalangi mereka untuk mewujudkan mimpi besarnya. Aku secara pribadi memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada sosok-sosok wanita perkasa yang pernah aku kenal selama ini, dan aku berharap mereka akan terus menjaga cita-citanya untuk diwujudkan serta tidak pernah menyerah. Karena menurutku, wanita sejati adalah wanita yang mampu memberikan manfaat dan kasih sayang seluas-luasnya bagi orang-orang disekitarnya dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang wanita.

Bandung, 2 Juli 2008

Kisah Sahabat Kota Alami Dunia

July 9, 2008

Dsc04097_1

Itulah sepenggal kisah yang sangat menyenangkan di masa liburan akhir sekolah semester genap

tahun 2008. Tidak hanya bagi peserta yang merupakan anak2 yang masih sekolah kls 3SD s.d Bru

mau masuk SMP, tetapi juga kk2 panitia pun merasakan kesenangan yang sangat luar biasa

layaknya menumpahkan memori indah di waktu kecil dengan berjuta kenakalan dan kejenakaan di

masa itu. Di tengah kesibukan dunia orang2 dewasa yang mulai kompleks dan menghabiskan cukup

banyak memori otak yang ukurannya hanya sekepal tangan itu, kisah ini menjadi angin surgawi yang

menyejukan hingga ke dasar hati. Lupa sudah stress akan TA, Ujian akhir dan kenaikan kelas,

tumpukan kertas2 kerja di meja kantor, serta kesibukan2 lainnya yang  memusingkan kepala itu.

100_0699_1
Dsc04050
Disanalah aku pun mulai menyelami dunia anak2 kembali, terhanyut dalam gelak tawa dan kepolosan

yang di pancarkan oleh sorot mata anak2 itu. Seperti terhisap dalam Black Hole, tanpa sadar tubuh

ini bergerak mengikuti irama permainan yang di ciptakan anak2 tersebut bahkan kadang2 secara

spontan bereaksi melebihi tingkah anak2. Tidak sadar aku dengan usia yang telah mencapai 22th ini,

dimana kedewasaan seharusnya telah terdokrin di kepalaku.Namun menurutku, kedewasaan itu

akan lahir dengan menunjukan diri kita apa adanya, dimana semua ekspresi muncul secara spontan

tanpa di buat-buat. Bukan ja’im karena takut dibilang kekanak-kanakan atau memasang tampang

serius dan sok-sok intelek biar di bilang dewasa. Tapi mampu bersikap sesuai waktu dan tempatnya,

dimana kita harus bisa menjadi seorang anak yang bersahabat layaknya saudara di tengah

kerumunan anak2 yang sedang bermain, kita harus menjadi sosok kakak yang penuh kasih sayang

saat anak2 mulai menghadapi masalah, kita harus menjadi sosok orang tua yang perhatian dan

selalu mengingatkan dikala anak2 mulai kehilangan arah. Begitu pula untuk teman, saudara, dan

orang yang kita tua kan sekalipun.

100_0567
Dsc03983
Banyak ilmu hidup yang kadang terlupakan oleh kita, tetapi teringatkan kembali dikala bisa bersama

16 orang anak-anak yang mempunyai keunikan masing2 ini. Ada Raisa yang tidak ada capeknya

untuk ngomong tetapi ini yg membuat suasana kelompok selalu rame dan selalu mempunyai kejutan

bagi kk2nya yang membuat kita terharu, ada Putri yang selalu melakukan hal2 yang di luar

Di persimpangan??

Huh, mulai terasa semua beban dipundak. Padahal satu tanggung jawab besar telah dilaksanakan tetapi entah kenapa pada masa seharusnya aku mulai menikmati masa tenang malah semua beban itu seakan muncul kepermukaan dan berkumpul sehingga tampak begitu menakutkan. Sekarang aku merasa dipersimpangan jalan, bingung menentukan arah mana yang harus aku tempuh.
Ya Allah, Engkau selalu memberi hambaMu cobaan untuk menguji dirinya seberapa besar kesabaran dan ketaqwaan hamba kepadaMu. Bukan aku bermaksud mengeluh atau meragukan apa yang Engkau berikan pada hamba, tapi jujur pada saat ini hati hamba sedang gundah dan binggung menentukan langkah. Di satu sisi, keluarga menaruh begitu besar harapan, di satu sisi lagi masih banyak keinginan dan harapan pribadi yang belum tercapai agar bisa mewujudkan mimpi yg telah di tanam sejak lama, dan di sisi yang lain pula ada keinginan untuk dapat hidup biasa dengan santai dan memenuhi kerinduan hati akan seseorang…
Ya Allah, tunjukan lah jalan yang terbaik bagi hamba untuk saat ini dan berikanlah kemantapan hati untuk menentukan jalan itu. Biarkanlah hati ini bisa selalu iklas dan sabar menjalani roda kehidupan ini, karena hamba yakin Engkau selalu memberikan yang terbaik bagi hamba dan selalu menguji sesuai dengan apa yang hamba mampu.

Bandung, 15 April 2008

Maaf buat hatiku…

Saat seseorang menemukan pengobat keriduan hatinya maka perasaan bahagia yg teramat sangatlah yang terasa. Tak ku pungkiri bahwa perasaan itu pulalah yang aku rasakan saat aku mengalami hal yang sama. Betapa bahagianya hati ini ketika melihat sang pujaan itu, tak henti2 nya bibir ini tersenyum seakan-akan tiada lagi  hal2 yg  menyakitkan di dunia ini. Saat memandang kesegala penjurupun yang terlihat hanyalah keindahan  dimana-mana. Oh, betapa menyejukannya surga dunia kala itu.
Tak mampu lagi terangkaikan dengan kata tuk ungkapan gejolak jiwa saat perasaan itu datang. Tapi, untuk kali ini aku harus melupakan itu semua. Maaf buat Hatiku. Aku harus menahan semua perasaan yang bergejolak itu. Mungkin ini belum saatnya buatku. Bukan karena kamu. Tapi karena ketakutanku akan harapan dan mimpi yang harus ku wujudkan. Sekali lagi maaf untuk hatiku, sekalipun ini harus menyakitimu.
Mungkin pada saat yang tepat nanti ini akan berubah. Teruntuk hatiku, kau harus ikhlas dan terus bersabar.
(*kebimbangan di persimpangan)

Aku?Bukan, ini tidak seperti aku…

Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya aku, tapi orang-orang disekelilingkupun merasakan hal yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi? Orang-orang sudah berubahkah? Entah kenapa jawaban ini sulit aku dapatkan, padahal mereka semua ada disekitarku saat ini.
Mungkin semua memang lagi mengalami hal-hal baru dalam hidupnya. Iyakah begitu? Tampaknya ini jawaban yang cukup logis untuk pertanyaanku ini. Hahaha bearti benar bahwa  orang-orang ini sedang berubah… iya mereka berubah. Syukurlah klo memang seperti itu.
Tunggu sebentar… Tapi mengapa masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku ya? Apakah itu? Ah sudahlah, toh aku sudah mendapatkan jawaban sesuai keinginanku kok…
Tidak bisa… Ada sesuatu yg harus aku keluarkan dari otak ini. Ah, ini dia… aku menemukannya…. Horeee
Jadi ini Aku?Bukan, ini tidak seperti aku. Aku tidak menemukan sosok yang santai, selalu berusaha gembira dan bersemangat, selalu berusaha yang terbaik dan menunjukan ketegaran disaat kapan pun dan dimanapun. Yang aku lihat di sini adalah kebimbangan yang tampak seperti orang dungu yang tidak tahu harus melangkah kemana. Inikah aku?Bukan, aku tidaklah seperti ini. Aku harus bangun. Aku harus sadar akan apa yang bisa aku perbuat. Ayo… Tunjukan aku yang sebenarnya, tunjukan jatidiriku, biarkan semua orang merasakan keberadaanku, biarkan mereka bisa menerimaku lagi seperti aku yg dulu. Seperti aku yang aku kenal, dia kenal dan mereka kenal…

Bandung, 15 April 2008

Pasrah!?

Huh…Gak kerasa hampir 4tahun menjalani aktivitas sebagai mahasiswa. Dan gak kerasa pula bahwa waktu untuk menjadi mahasiswa ini akan segera berakhir. Banyak banget ilmu yang udah didapet baik akademis maupun non akademis. Banyak juga cerita yang terukir baik canda tawa, isak tangis dan kesedihan serta cerita kepahlawanan, romantis, mengharukan pun tak luput dari masa-masa itu. Wah, akan sangat kangen sekali merasakan itu semua di kemudian hari ya…
Tapi, jujur aja aku sebenernya masih ingin berbuat banyak di kampus ini, aku merasa masih mampu melakukan lebih dari ini. Terlalu banyak hal-hal baru untuk dipelajari. Sangatlah disayangkan klo melewatkan hal itu semua. Jadi apa yang sebaiknya aku perbuat??? Adakah yg bisa memberi saran???
Namun pada kenyataannya aku tak mampu menahan kehendak orang tua yang memintaku segera menyelesaikan pendidikanku di kampus ini. Mengingat betapa besar pengorbanan yang sudah diberikan mereka, aku pun tak kuasa menolak permintaan itu untuk kali ini. Pasrahkah aku dengan semua ini!? Yang ku tahu adalah sebagai seorang anak seharusnya mematuhi perkataan orang tua, walau terasa berat karena masih banyak mimpi di kampus ini yang belum terlaksana. Ah… Mungkin nanti itulah jalan yang terbaik yang harus aku tempuh. Aku yakin Allah telah menggariskan semua jalanku.  Mudah-mudahan jalan yang ku ambil ini dapat membahgiakan kedua orangtuaku tercinta…

Bandung, 25 April 2008